Debu yang terurai dari tapak kakiku tak ubahnya tawa keriangan saat kita menorehkan sejarah dalam pualam harapan. Ketika aku hentikan langkah untuk menyimak ketulusan pualam harapan itu kudapi keraguan akan tawa itu....dan aku takdjub dengan geliat tanya yang kuat mengalir bersama buliran airmata akan keriangannya dulu karena saat ini ia mengantarkanku ketempat baru dimana mulut-mulut bergemuruh melantunkan nyanyian pedihnya pengkhiantan dan terus menyanyikan bait-bait untuk menunjukkan mencari dunia hati yang mampu mengantarkan senyum ketulusan.
Debu yang terurai dari telapak kaki, adalah petunjuk angin yang menghempaskan untuk menempatkannya pada singgsana masa lalu yang indah yang dibangun dengan putaran waktu yang dibaluti dengan daya kreasi. Tapi daya itu kini telah berubah menjadi kekuatan yang melemparkan kaki ini untuk beranjak pergi.
Debu yang terurai dari telapak kaki ini, adalah sejarah indah yang terburai bersama kekuatan hatiku untuk memahami petunjuk angin kemana langkah ini akan kubawa dan terhenti di dunia hati.
Debu yang terurai dari telapak kaki ini tidak akan mampu mengeluarkan airmata lagi karena keiklasan telah menyadarkan diriku bahwa ketulusan hanya akan didapati pada ketulusan, karena angin harapan masih menerpa lunglai tubuh ini.
Debu yang terurai dari telapak kaki ini tidak akan mampu memenjarakan harapan dalam lubang dalam yang dapat menenggelamkan kaki ini untuk melangkah menuju dunia hati.
Debu yang terurai dari telapak kaki ini tidak akan menyesatkan langkah dalam jurang keputusasaan karena ia telah mengajariku bahasa hati untuk sampai pada dunia hati dimana akan aku bangun lagi pualam harapan menjadi prasasti kerajaan hati...
Debu yang terurai dari telapak kaki, adalah petunjuk angin yang menghempaskan untuk menempatkannya pada singgsana masa lalu yang indah yang dibangun dengan putaran waktu yang dibaluti dengan daya kreasi. Tapi daya itu kini telah berubah menjadi kekuatan yang melemparkan kaki ini untuk beranjak pergi.
Debu yang terurai dari telapak kaki ini, adalah sejarah indah yang terburai bersama kekuatan hatiku untuk memahami petunjuk angin kemana langkah ini akan kubawa dan terhenti di dunia hati.
Debu yang terurai dari telapak kaki ini tidak akan mampu mengeluarkan airmata lagi karena keiklasan telah menyadarkan diriku bahwa ketulusan hanya akan didapati pada ketulusan, karena angin harapan masih menerpa lunglai tubuh ini.
Debu yang terurai dari telapak kaki ini tidak akan mampu memenjarakan harapan dalam lubang dalam yang dapat menenggelamkan kaki ini untuk melangkah menuju dunia hati.
Debu yang terurai dari telapak kaki ini tidak akan menyesatkan langkah dalam jurang keputusasaan karena ia telah mengajariku bahasa hati untuk sampai pada dunia hati dimana akan aku bangun lagi pualam harapan menjadi prasasti kerajaan hati...
0 komentar:
Posting Komentar